
Halo semua, pa kabar? Baik? Alhamdulillah. Pada kesempatan kali ini aku akan cerita tentang salah satu kekayaan budaya kita yang berasal dari budaya Melayu, yaitu peribahasa. Ada yang masih ingat pelajaran bahasa Indonesia tentang peribahasa di sekolah? Ingat kembali dong yaa..oke? Memang benar itu peribahasa tak kenal maka tak sayang. Dulu waktu SD, peribahasa itu sekadar pelengkap pelajaran yang menyebalkan. Bayangkan saja, untuk bisa tahu arti peribahasa yang nantinya keluar di ujian, aku sampai bela-belain menghapal 1001 peribahasa di buku warna ijo. Gak berhasil sampai seribu satu, sih. Tapi setidaknya ada beberapa yang
nyantol di otak. Ternyata asik juga. Dan belum lama aku sadari kalau ternyata ajaran yang ada di peribahasa itu banyak yang dilanggar. Ada peribahasa bulat air di pembuluh, bulat kata di mufakat. Ini tentang musyawarah. Musyawarah dengan hasilnya kata mufakat. Zaman sekarang, apalagi di forum dewan yang terhormat, mana ada itu mufakat? Semua pihak memperjuangkan
kepentingannya sendiri- sendiri. Dan kalau sudah deadlock, akhirnya voting. Voting ini bukan mufakat karena yang suaranya lebih sedikit terpaksa mengalah. Harusnya, yang terpaksa mengalah itu pun mengakui keputusan itu sebagai keputusan yang disetujuinya usai musyawarah. Tapi faktanya tidak. Jadi, baiknya para anggota dewan yang terhormat itu sebelum dilantik perlu diberi kuliah matrikulasi tentang peribahasa. Ada lagi peribahasa lubuk akal
tepian ilmu. Artinya, orang yang pandai dan bijak lah tempat orang bertanya dan menimba ilmu. Lah, sekarang? Masalah korupsi ditanyakan pada pelawak. Apa iya pelawak paham korupsi atau pelaku korupsi? Eh, iya ada. Tukul Arwana itu, contoh pelawak yang korupsi. Pernah
dan sering dia mengatakan kalau acaranya disaksikan sekian milyar triliun pemirsa di seluruh dunia. Lah, penduduk dunia itu berapa sih? Tapi Tukul memang cerdas, sih. Kalau dikomplain dia akan bilang, “Lah, kan termasuk penduduk yang tidak kasat mata, seperti tuyul, genderuwo sama kuntilanak. Belum lagi makhluk-makhluk Tuhan seperti kecoa, cicak, kelelawar, burung hantu, kutu kupret, dan sebangsanya.” Ngomomg-ngomong, nih. Ada
satu peribahasa yang aku yakini tepat. Ini terjadi dalam hidupku. Peribahasa itu berbunyi “Asam di gunung, garam di laut, bertemu dalam satu belanga“. Ini soal jodoh. Aku dan istriku berasal dari daerah berbeda, akhirnya ngumpul di satu rumah sebagai suami-istri. Nah, yang kupikir tepat itu, jodoh dianggap masakan, sementara suami dan istri itu ibarat sumber bumbunya. Jadi salah satu berfungsi sebagai pohon asam, satunya lagi lautan. Nah,
kalau dipikir-pikir dalam rumahtangga kami itu, aku yang jadi pohon asam, istriku lautannya. Aku yakin itu. Alasannya? Masakan istriku bisa diukur dari salinitasnya. Hehe.. iya..diukur kadar garamnya. Wah, kalau dikaitkan dengan ilmu bumi, masakannya serasa laut mati. Orang aja ngapung di sana saking asinnya. Jadi kalau melihat sayur lodeh ada potongan terong ngapung, menurut pikiranku bukan karena massa jenis terong itu lebih kecil daripada massa jenis kuah sayurnya, tetapi karena saking asinnya. Anehnya, istriku gak merasa masakannya itu keasinan. Ya iyalah, orang dia agen garamnya. Vote keasinan justru dianggapnya pengingkaran atas kebenaran hakiki. Responku sih biasa, sajalah. Ketemu sayur keasinan, aku pasang tampang asem.. Wajar, dong. Lah aku kan pohonnya.. Sekian dari saya, terimakasih semuanya.
Sumber : http:// hiburan.kompasiana.com/
humor/2014/08/09/naskah-
stand-up-comedy-
peribahasa-672332.html
UNDER MAINTENANCE